Pencarian

Blog Archive

Teman akrab

Artikel

Rabu, 10 September 2008

BAB 3

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat deskriptif yang menggambarkan pengetahuan Kepala Keluarga tentang Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (SAMIJAGA) yang ada di Desa Sungai Kuning Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci.


B. Lokasi dan Waktu Penelitian.
Penelitian dilakukan di Desa Sungai Kuning. Waktu penelitian adalah dari tanggal 26 Mei sampai 3 Juni 2008.
C. Populasi dan Sampel
  1. Populasi
Populasi penelitian adalah seluruh Kepala Keluarga yang berdomisili di Desa Sungai Kuning Kecamatan Siulak yang berjumlah 187 KK.
  1. Sampel
Sampel penelitian ini diambil 20 % dari jumlah populasi yang ada. Hal ini sesuai dengan pendapat suharsini Arikunto (2003:104) yang menjelaskan bahwa apabila jumlah populasi besar dari 100, maka jumlah sampel dapat diambil 20-25 % dari jumlah populasi. Jumlah sampel dari penelitian ini adalah 20 % dari 187 KK sehingga didapat 39 KK.

  1. Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dengan menggunakan teknik random sampling dengan menggunakan kriteria sampel sebagai berikut:
  1. Inklusi
1. Kepala keluarga yang mempunyai rumah di lokasi penelitian.
2. Bersedia menjadi responden
3. Bisa berkomunikasi secara verbal.
  1. Eksklusi
1. Kepala keluarga yang tidak mempunyai rumah di lokasi penelitian.
2. Tidak bersedia menjadi responden.
3. Tidak bisa berkomunikasi secara verbal.
D. Cara Pengambilan Data
  1. Data Primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari responden yang dikumpul oleh penelitian dengan menggunakan kuisioner yang telah disiapkan.
  1. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang di peroleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, Puskesmas Siulak Gedang dan data dari Desa Sungai Kuning.
E. Pengolahan, Analisa dan Penyajian Data
Data yang telah dikumpul diolah secara manual yaitu dengan cara editing, koding, dan tabulasi data, disajikan dalam bentuk tabel sederhana.
1. Coding, Setelah dilakukan, langkah selanjutnya yang ditempuhkan adalah melakukan peng-kode-an data (koding). Dalam penelitian ini hanya menggunakan pertanyaan tertutup.
2. Editing, Setelah data berhasil dikumpulkan, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah mengolah data sedemikian rupa shingga jelas sifat-sifatnya yang dimiliki oleh data tersebut. Untuk dapat melakukan pengolahan data dengan baik, data tersebut perlu diperiksa terlebih dahulu, apabila telah sesuai seperti yang diharapkan atau tidak. Dalam melakukan editing ada yang beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni :
a. Memeriksa kelengkapan data.
b. Memeriksa kesenambungan data.
c. Memeriksa keseragaman data.
Tahap editing penelti melakukan pengecekan terhadap data-data yang ada baik dari hasil observasi maupun dari kuesioner . Untuk mengetahui tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner dengan jumlah pertanyaan 16 item. Setelah semua nilai terkumpul, dijumlahkan selanjutnya dilakukan analisa tingkat pengetahuan kepala keluarga tentang sarana air minum dan jamban keluarga, dengan meggunakan tekhnik prosentase, dengan rumus di bawah ini :

P = F x 100%

N
Keterangan :
P : Prosentase
F : Jumlah jawaban yang benar
N : Jumlah responden
Selanjutnya hasil penghitungan dimasukan ke dalam standar kriteria objektif, sebagai berikut :
Pengetahuan Tinggi, bila hasil 76% - 100%
Pengetahuan Sedang, bila hasil 56% - 75%
Pengetahuan Rendah, bila hasil ≤ 55%
3. Entri, Memasukkan data kedalam tabel dan mengolah data.
4. Tabulating, Setelah editing dan koding selesai dilakukan, langkah selanjutnya yang ditempuh adalah mengelompokkan data tersebut kedalam suatu tabel tertentu menurut sifat-sifat yang dimilikinya sesuai dengan tujuan penelitian. (Azwar, 1987:61).
5. Cleaning
Data diperiksa kembali sehingga benar-benar bebas dari kesalahan.
F. Instrumen Penelitian
Pada penelitian ini penulis menggunakan kuesioner. Adapun yang dimaksud dengan kuesioner adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan instrumen pertanyaan secara tertulis kepada responden. Dalam penelitian ini kuesioner yang digunakan angket yang berstruktur yaitu yang telah dilengkapi dengan jawaban dan responden cukup memilih pilihan jawaban yang dianggap yang paling benar sesuai dengan pendapat dan pengalaman.
Pertanyaan yang diajukan terhadap responden terdiri dari 16 (Enambelas) item pertanyaan, tiap elemen pertanyaan diberi bobot nilai, bila setiap bagian komponen pernyataan betul diberi skor 1 (satu), bila pernyataan salah diberi nilai 0 (nol), kemudian dijumlahkan. Kemungkinan skor tertinggi diperoleh dari responden adalah 16 (Enambelas), sedangkan nilai terendah adalah 0 (nol).
G. Defenisi Operasional
Tabel 3.1
Defenisi Operasional
No
Variabel
Defenisi Operasional
Skala Ukuran
Alat Ukur
Hasil
1
Pengetahuan kepala keluarga
Pengetahuan kepala keluarga tentang :
1. Jenis sarana air minum
2. syarat air bersih
3. jenis jamban
4. syarat jamban yang baik
5. Konstruksi jamban yang baik
Ordinal
Quesioner
Tingkat pengetahuan kepala keluarga :
Tinggi 76–100 %
Sedang 56–75 %
Rendah ≤ 55 %
H. Kerangka Konsep
Kepala Keluarga
Di desa Sungai Kuning
Pengetahuan tentang :
- Jenis sarana air minum
- Syarat air bersih
- Jenis jamban
- Syarat jamban yang baik
- Konstruksi jamban yang baik
Gambaran pengetahuan kepala keluarga tentang sarana air minum dan jamban keluarga
1. Tinggi 76 – 100 %
2. Sedang 56 – 75 %
3. Rendah ≤ 55 %
Input Proses Output
Read More..

BAB 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pengetahuan
  1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah ingatan tentang material yang telah dipelajari. Meliputi kemampuan mengingat luasnya materi, dari fakta yang spesifik sampai teoti yang lengkap (The American Heritage, 2004 : 232-235)
Pengetahuan adalah hasil dari "tahu", dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoadmodjo, 2003 : 127-128)

Pengetahuan (Knowledge) adalah hasil tahu dari manusia, yang sekedar menjawab pertanyaan "what", misalnya apa air, apa manusia, apa alam dan sebagainya. Sedangkan ilmu (science) bukan sekedar menjawab "what", melainkan akan menjawab pertanyaan "why" dan "how", misalnya mengapa air mendidih bila dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernafas dan sebagainya. Pengetahuan hanya dapat menjawab mengapa dan bagaimana sesuatu tersebut terjadi.

  1. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Pengetahuan yang di cakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yakni :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh : kepala keluarga dapat menyebutkan syarat-syarat jamban yang baik.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar, Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus menggunakan air yang bersih.
c. Aplikasi (appication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum, rumus-rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus stastistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycel) di dalam pemecahan masalah kesehatan sari kasus yang diberikan.
d. Analisis (analysis)
Analis adalah suatu kemampuan untuk mejabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. Contoh : Kepala Keluarga tahu tentang cara dan perjalanan penyakit dari dampak lingkungan, dapat mengerti tentang dampak lingkungan yang tidak sehat tersebut sehingga kepala keluarga dapat menyebutkan kembali dan memberikan pendapat tentang apa yang dibahas sebelumnya dengan baik dan benar.
e. Sintetis (synthesis)
Sintesis menunjukan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang ada. Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkasi, dapat menyesuaikan dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang ada. Contoh : Kepala keluarga dapat mengambil kesimpulan dari apa yang disampaikan penulis sehingga dia tau apa dampak air yang tidak sehat.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang ada. Contoh : kepala keluarga dapat menilai tentang apa yang telah dilakukannya dengan yang dialaminya seperti awal mula penyebab lingkungan yang tidak bersih hingga sampai sekarang (Notoatmodjo, 2003 : 1).
  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
a. Pendidikan
Pendidikan dalam arti formal sebenarnya adalah suatu proses penyampaian bahan atau materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan guna mencapai perubahan tingkah laku karena pendidikan merupakan suatu proses, maka dengan sendirinya mempunyai masukan dan keluaran. Dimana pendidikan tersebut berlangsung didalam suatu lingkungan baik formal maupun non-formal (Notoatmodjo, 1997 : 2).
Pengetahuan umumnya datang dari pengalaman dan diperoleh dari informasi yang disampaikan oleh guru, orang tua, teman, buku dan surat kabar pengetahuan sangat berhubungan dengan pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat di perlukan untuk mengembangkan diri, semakin tinggi pendidikan semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi, sehingga meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan keluarga (Agustina, 2000 : 35-37)
b. Motivasi
Suatu tenaga atau faktor yang terdapat didalam diri manusia yang menimbulkan, megarahkan dan mengorganisasikan tingkah lakunya dalam menghadapi penyakit yang dideritanya (Notoatmojo, 1997 : 2).
c. Sikap
Secara umum sikap dapat dirumuskan sebagai kecenderungan untuk berespon (secara psitif dan negatif) terhadap orang, objek atau situasi tertentu. Sikap megandung suatu penilaian emosional atau afektif (senang, benci, sedih dan sebagainya). Disamping komponen kognitif (pengetahuan tentang objek itu) pengetahuan lebih bersifat pengenalan suatu benda atau ha secara objektif. (Sarwono, 1993 : 2).
  1. Kepatuhan
Kepatuhan adalah melakukan sesuatu sesuai dengan standar yang berlaku (Miller, 2005).
Banyak faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan antara lain kemampuan, motivasi, masa kerja, latar belakang pendidikan, fasilitas atau peralatan, bahan serta kejelasan prosedur. (Ajeng Ardine, 2005).
  1. Kategori pengetahuan
Untuk mengetahui secara kualitas tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang dapat di bagi menjadi tiga tingkat (Arikunto, 1998 : 246) yaitu :
a. Tingkat pengetahuan baik bila skor atau nilai 76-100 %
b. Tingkat pengetahuan cukup bila skor atau nilai 56-75 %
c. Tingkat pengetahuan kurang bila skor atau nilai ≤ 55 %
B. Sarana Air Minum
1. Pengertian
Pengertian sarana air minum adalah bagian dari kebutuhan manusia sehari-hari yang dipergunakan untuk berbagai keperluan seperti mencuci, mandi, memasak dan lain-lain.
2. Jenis-jenis sarana air minum :
a. Air Hujan
Air hujan adalah air murni yang berasal dari sublimasi uap air di udara yang ketika turun melarutkan benda-benda diudara yang dapat mengotori dan mencemari air hujan seperti: gas (O2, CO2, N2, dll), jasat renik, debu, kotoran burung, dll
Air hujan dapat ditampung kemudian dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium didalamnya.
b. Air Sungai dan Danau
Menurut asalnya sebagian dari air sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
c. Mata Air
Air yang keluar dari mata air ini berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
d. Air Sumur Dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah maka juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu direbus dahulu sebelum diminum.
e. Air Sumur Dalam
Air ini berasal dari lapisan air kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter. Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan) (Notoatmodjo, Tahun 2003)
3. Faktor penyebab terjadinya pencemaran air.
a. Karena mengandung gas-gas tertentu yang membahayakan kesehatan seperti methane, hydrogen sulfid dan lain sebagainya.
b. Karena mengandung mineral tertentu yang dapat mendatangkan kelainan, misalnya sulfate, nitrat dan lain sebagainya.
c. Karena mengandung benda-benda bersifat koloid seperti bakteri, jamur dan kuman-kuman penyakit lainnya.
d. Karena zat radio aktif, terutama jika sumber air tersebut kontak dengan zat-zat ataupun peralatan yang mempergunakan tenaga atom.


4. Syarat-syarat air yang bersih
a. Syarat fisik
Air yang baik digunakan adalah air yang tidak berwarna , tidak berasa, tidak berbau, jernih dengan suhu dibawah suhu udara sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa nyaman. jika salah satu dari syarat fisik ini tidak terpenuhi maka besar kemungkinan air tidak sehat.
b. Syarat bakteriologis
Dalam kehidupan sehari-hari amat sulit menentukan apakah air tesebut benar-benar bersih dan sehat, karena itu apakah air minum bebas dari bakteri atau tidak, pegangan yang dipakai adalah E Coli, tergantung dari cara pemeriksaan yang dilakukan, maka jumlah E Coli yang masih dibenarkan terdapat dalam sumber air minum yang bermacam-macam, pada permukaan air minum yang memakai prosedur Membrane Filter Tecknique, maka 90% dari contoh air yang diperiksa selama 1 bulan harus dari E Coli, selanjutnya dari yang mengandung E Coli jmlah kuman ini tidak boleh lebih dari 3 untuk setiap 50 cc air, tidak boleh lebih dari 4 untuk 100 cc air, tidak boleh lebih dari 7 untuk 200 cc air, serta tidak boleh lebih dari 13 untuk 5000 cc air.
c. Syarat kimia
Air minum yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia terutama oleh zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan. Selanjutnya diharapkan zat-zat ataupun bahan kimia yang terdapat di dalam air minum, tidak sampai menimbulkan kerusakan pada tempat penyimpanan air minum, sebaliknya zat-zat ataupun mineral yang dibutuhka oleh tubuh hendaknya harus terdapat dalam kadar yang sewajarnya dalam sumber air minum tersebut.
5. Pengelolaan air
a. Pengelolaan secara alamiah
Biasanya dilakukan dalam bentuk penyimpanan (Storage) ataupun pengendapan (sedimentation).
b. Pengelolaan air dengan menyaring
Teknik ini dengan menyaring air dengan mengunakan saringan pasir.
c. Pengelolaan air dengan menambahkan zat kimia
Zat kimia yang di tambahkan ada dua macam, yaitu :
a. Yang bertujuan untuk mempercepat terjadinya proses kuabulasi, jadi yang ditambahkan ialah zat kuabulasi
b. Yang bertujuan untuk membersihkan kuman atau membunuh bibit penyakit di dalam air.
d. Pengelolaan air dengan mengalirkan udara
Proses ini disebut aeration yang bertujuan untuk menghilangkan rasa bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tidak dibutuhkan (CO2, metane,hydrogin sulfida), menaikan derajat keasaman air, menambahkan gas-gas yang diperlukan atau pun untuk mendinginkan air.
e. Pengelolaan air dengan memanaskannya hingga mendidih
Pengelolaan air ini bertujuan untuk menbunuh kuman-kuman yang berada di dalam air.


6. Penyakit yang berhubungan dengan air
a. Diare
b. Typus
c. Malaria
d. Demam beradarah (DHF)
e. Cacingan
f. Penyakit kulit/Scabies
Malaria merupakan masalah utama di negara tropis, berbagai upaya pemeberantasan malaria telah diupayakan, namun morbiltas dan mortalitas karena malaria masih tinggi. Di Indonesia insiden malaria meningkat dapat dilihat dari annual parasite index (API) 0,7 (Tahun 1995) menjadi 0,8 (Tahun 2000) (Majalah Kedokteran, Tahun 2002).
Karena begitu pentingnya air bagi tubuh manusia dalam proses nya seperti air memasuki tiap-tiap reaksi di dalam tubuh manusia. Lebih dari 2/3 tubuh manusia terdiri atas air dalam berbagai bentuk. Setiap hari ginjal menyaring 170 liter air untuk anda. Cairan ini masuk kembali ke dalam aliran darah, hanya sebagian kecil yang dibuang sebagai air seni. Air yang dibuang itu mebawa kotoran yang tidak diperlukan oleh tubuh (Clifford.R.Anderson, M.D).
Ditinjau dari pengertian ini, jelaslah bahwa begitu pentingnya air bagi manusia dan alam sekitarnya dan mencakup bidang yang amat luas.
Maka air yang digunakan selain harus mencukupi dalam arti kuantitas untuk kebutuhan sehari-hari, juga harus memenuhi persyaratan kualitas yang telah ditetapkan baik kualitas fisik, bakteriologis maupun kimia.
C. Jamban
Selain air sebagai kebutuhan manusia yang sangat penting bagi kehidupan, jamban pun merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan. Jamban adalah fasilitas sanitasi yang sederhana, terdiri dari pelat jongkok dan leher angsa yang dilengkapi dengan saluran pembuangan ke cubluk atau tangki septik (Siklus Perencanaan Kesehatan Dr. Ridwan Amiruddin, SKM.M.KES Tahun 1997).
Kotoran manusia adalah segala benda atau zat yang dihasilkan oleh tubuh dan dipandang tidak beguna lagi sehingga perlu dikeluarkan untuk dibuang, ditinjau dari pengertian ini, jelaslah bahwa kotoran manusia sebenarnya mencakup bidang yang amat luas karena terbentuk adanya CO2 sebagai hasildari pernafasan (respirasi), lendir, maupun getah-getah tubuh yang di hasilkan kelenjar-kelenjar eksokrin, serta darah haid dan lain sebagai nya temasuk didalamnya (Siklus Perencanaan Kesehatan Dr. Ridwan Amiruddin, SKM.M.KES Tahun 1997).
Penyehatan Pembuangan Kotoran (PPK) adalah upaya mengelola kotoran manusia melalui penampung dan pembuang yang memenuhi syarat teknis kesehatan guna melindungi, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
  1. Syarat-syarat jamban yang memenuhi syarat kesehatan.
a. Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter.
b. Tidak berbau dan tinja tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus.
c. Tidak mencemari lingkungan sekitar.
d. Mudah dibersihkan.
e. Aman digunakan.
f. Dilengkapi dengan dinding dan atap pelindung.
g. Cahaya bisa masuk.
h. Lantai kedap air.
i. Luas ruang harus cukup.
j. Ventilasi cukup baik.
k. Tersedia air dan alat pembersih (Depkes RI, 1998)
  1. Jenis jamban
a. Dilihat dari jenis jamban, yaitu : Jamban Cemplung, Jamban Cemplung + Plesengan, Leher Angsa dan Leher Angsa + Plesengan.
b. Dilihat dari jenis penampungan kotoran, yaitu: Septik Tenk dan Lubang Galian.
  1. Penentuan letak jamban
Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih letak jamban atau kakus yang akan dibuat adalah mengenai jaraknya terhadap sumber air minum yang ada. Jarak kakus harus diatur sedemikian rupa minimal 10 meter, sehingga tidak mengotori lingkungan di sekitarnya.
Penentuan jarak kakus dengan sumber air minum terganggu dengan beberapa hal, antara lain:
a. Bila daerahnya berupa lereng maka kakus letaknya di bagian bawah, atau lebih rendah dengan bagian sumur.
b. Bila daerahnya berupa dataran, maka letaknya sedapat mungkin harus berada di luar jalur daerah banjir.

  1. Konstruksi jamban yang baik

Untuk memenuhi konstruksi jamban yang bagaimana yang dianjurkan atau dipergunakan sangat dipengaruhi oleh keadaan daerah, misalnya bagai mana keadaan tanah, tinggi permukaan air sehari-hari sepanjang tahun, pengaruh banjir dimusim hujan, dan pengaruh pasang surut air laut bagi daratan di tepi pantai dan sebagainya. Di samping hal tersebut, konstruksi juga dipengaruhi oleh hal-hal di luar itu, misalnya penerapan teknologi tepat guna seperti penggunaan mudah, konstruksi murah, pemeliharaan mudah serta menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar tempat tersebut, yaitu:
a. Harus tertutup dalam arti bangunan tersebut terlindungi dari pandangan orang lain. Syarat-syarat ini dipengaruhi dalam bentuk mengadakan ruangan tersendiri untuk jamban di rumah ataupun mendirikan rumah jamban di pekarangan.
b. Bangunan kakus diletakkan pada lokasi yang tidak sampai mengganggu pemandangan, tidak menimbulkan bau, serta tidak menjadi tempat hidupnya serangga.
c. Bangunan kakus mempunyai lantai yang kuat, mempunyai tempat pijakan yang kuat, terutama jenis cemplung.
d. Mempunyai lobang atau klosed yang kemudian melakukan saluran tertentu, dialirkan pada sumur penampungan dan sumur rembesan yang terutama disyaratkan dengan kakus model pemisahan yang dengan penampungan atau rembesan.
e. Menyediakan alat pembersih (air atau kertas) yang cukup sedemikian rupa sehingga dapat segera dipakai setelah buang kotoran atau tinja.

Read More..

BAB 1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat. Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2004.

 
Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) Tahun 2004 disebutkan bahwa untuk menggerakkan pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna diperlukan manajemen kesehatan yang didukung oleh ketersediaan data dan informasi kesehatan yang relevan, akurat, tepat waktu dan sesuai dengan kebutuhan program. Informasi kesehatan yang dibutuhkan yaitu mencakup seluruh data yang terkait dengan kesehatan baik yang berasal dari sektor kesehatan ataupun dari berbagai sektor pembangunan lain. Kebutuhan data dan informasi kesehatan dari tahun ke tahun semakin meningkat. Masyarakat semakin peduli dan tanggap terhadap berbagai situasi/masalah kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan pihak swasta. Kepedulian ini memberikan dampak positif bagi pembangunan kesehatan itu sendiri. Untuk itu dibutuhkan ketersedian data yang akurat, relevan dan tepat waktu yang dapat mendukung kinerja manajemen kesehatan. Selama ini sudah terdapat mekanisme dan media yang memadai dan baku yang dapat dipergunakan untuk pengelolaan data dan informasi disetiap jenjang administrasi kesehatan, namun masih ditemukan hambatan dalam penyediaan data / informasi. Data yang selama ini diolah, dianalisis dan disajikan belum semuanya dimanfaatkan secara tepat guna.
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Oleh karena itu masyarakat diharapkan mampu berpartisipasi aktif dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri, dengan demikian masyarakat mampu menjadi subjek dalam pembangunan kesehatan (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Kesehatan lingkungan pemukiman ditingkatkan melalui pengawasan : kualitas air bersih dan air minum, jamban keluarga, tempat pembuangan sampah sementara dan akhir, tempat-tempat umum serta penyediaan berbagai sarana sanitasi lingkungan pemukiman sebagai stimulan. Peningkatan kualitas lingkungan dilakukan untuk meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman, perumahan dan bangunan yang memenuhi syarat kesehatan sehingga masyarakat dapat hidup sehat dan produktif serta terhindar dari penyakit yang ditularkan melalui atau disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat (UU Kesehatan No. 23 tahun 1992).
Kesehatan lingkungan di negara-negara yang sedang berkembang berkisar pada sanitasi (jamban), penyediaan air minum, perumahan, pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah (air kotor) (Notoatmodjo 2000 : 147).
Di Indonesia, penduduk pedesaan yang menggunakan air bersih baru mencapai 67,3%. Dari angka tersebut hanya separuhnya (51,4%) yang memenuhi syarat bakteriologis. Sedangkan penduduk yang menggunakan jamban sehat (WC) hanya 54%. Itulah sebabnya penyakit diare sebagai salah satu penyakit yang ditularkan melalui air masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan angka kesakitan 374 per 1000 penduduk. Selain itu diare merupakan penyebab kematian nomor 2 pada Balita dan nomor 3 bagi bayi serta nomor 5 bagi semua umur (Tahun 2007)
TABEL 1.1.
DISTRIBUSI FREKUENSI JENIS SARANA AIR MINUM
DI KABUPATEN KERINCI TAHUN 2007
NO
SARANA AIR MINUM
JUMLAH (KK)
%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Ledeng
SPT
SGL
PAH
Kemasan
Lain nya
34.530
173
5.879
68
3
44.462
81,29
0,41
13,84
0,1601
0,00706
4,29
Jumlah
86.938
100
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, 2007
Dari data yang didapat di Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci pada Tahun 2007 dimana jumlah penduduk 325.753 Jiwa, terdiri dari 86.938 KK dan penduduk sebagian besar memeiliki sarana air minum Lainnya yaitu 40.653.
TABEL 1.2.
DISTRIBUSI FREKUENSI JENIS JAMBAN KELUARGA
DI KABUPATEN KERINCI TAHUN 2007
NO
JENIS
JUMLAH (KK)
(%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Cemplung
Cemplung dengan plesengan
Leher angsa
L. A dengan plesengan
L. A dengan septik tank
LAINNYA
6.327
2.235
2.786
5.828
24.256
45.506
7,3
2,5
3,2
7
28
52
Jumlah
86.938
100
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci, 2007
Dari data yang didapat di Dinas Kesehatan Kabupaten Kerinci pada Tahun 2007 dimana jumlah penduduk 325.753 Jiwa, terdiri dari 86.938 KK yang memeiliki jamban 41.432.
Selanjutnya tentang sumber air dan penampungan kotoran (tinja) yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Siulak Gedang dapat dilihat pula pada tabel berikut ini:
TABEL 1.3.
DISTRIBUSI FREKUENSI SARANA AIR MINUM
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
SIULAK GEDANG TAHUN 2007
NO
SARANA AIR MINUM
JUMLAH
(%)
1.
2
3
4.
5.
SR (PP PAM)
PP Non Pam
Sumur Gali
SPT Dangkal
LAINNYA
1.812
646
845
0
6.298
18,8
6,7
8,8
0
65,7
Jumlah
9.601
100
Sumber : Puskesmas Siulak Gedang Kecamatan Siulak, 2007
Dari data yang didapat dari Wilayah Kerja Puskesmas Siulak Gedang pada tahun 2007 jumlah penduduk 32.085 Jiwa terdiri dari 9.601 KK dan penduduk yang memiliki Sumber Air Minum 3.303 KK.
TABEL 1.4.
DISTRIBUSI FREKUENSI SARANA PENAMPUNGAN KOTORAN (TINJA)
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SIULAK GEDANG
TAHUN 2007
NO
KEPEMILIKAN SARANA
JUMLAH
(%)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Cemplung
Cemplun + Plesengan
Leher Angsa
Leher Angsa + Plesengan
Leher Angsa + Septik Tank
LAINNYA
80
0
0
0
8.65
8.656
0,8
0
0
0
9,2
90
Jumlah
9.601
100
Sumber : Puskesmas Siulak Gedang Kecamatan Siulak, 2007
Dari data yang didapat dari Wilayah Kerja Puskesmas Siulak Gedang pada tahun 2007 jumlah penduduk 32.085 Jiwa terdiri dari 9.601 KK dan penduduk yang memiliki jamban 945 KK.
Dari data yang didapat dari Puskesmas Siulak Gedang sumber air bersih yang digunakan oleh 187 KK yang terdapat di desa Sungai Kuning Kecamatan Siulak Tahun 2008 terdapat 80 KK (42,8 %) yang memiliki sumber air bersih sendiri di rumah, dengan keseluruhan penduduk menggunakan air berasal dari Sumur Gali, Sedangkan 107 KK (57,2%) tidak memiliki sumber air bersih di rumah tetapi memanfaatkan sumber air bersihnya dari mata air.
Dari data yang didapat dari Puskesmas Siulak Gedang bahwa kepala keluarga di Desa Sungai Kuning Kecamatan Siulak Tahun 2008 terdapat 25 KK (13,4%) yang telah memiliki jamban keluarga dengan keseluruhan menggunakan jenis jamban Cemplung. Sedangkan dari 187 KK yang ada di desa tesebut terdapat 162 KK (86,6%) yang tidak memiliki jamban di rumah, sementara untuk BAB/BAK mereka yang memanfaatkan perkebunan dan sungai.
Masih rendahnya kepemilikan sarana air minum dan jamban tersebut tidak terlepas dari beberapa faktor salah satunya adalah pengetahuan kepala keluarga tentang manfaat adanya sarana air minum dan jamban.
Dari data tersebut penulis ingin melihat bagaimana gambaran pengetahuan Kepala Keluarga tentang kepemilikan sarana air minum dan jamban keluarga di Desa Sungai Kuning Tahun 2008.
B. Ruang Lingkup
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka penulis ingin mengetahui, bagaimana pengetahuan Kepala Keluarga Desa Sungai Kuning tentang Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga.



C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan kepala keluarga tentang kepemilikan Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (Samijaga) di Desa Sungai Kuning tahun 2008.
2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengetahuan Kepala Keluarga tentang jenis sarana air minum di Desa Sungai Kuning.
b. Mengidentifikasi pengetahuan Kepala Keluarga tentang syarat-syarat air bersih.
c. Mengidentifikasi pengetahuan Kepala Keluarga jenis jamban di Desa Sungai Kuning
d. Mengidentifikasi pengetahuan Kepala Keluarga tentang Syarat jamban yang baik.
e. Mengidentifikasi pengetahuan Kepala Keluarga tentang Konstruksi jamban (pembuatan jamban) yang baik.
D. Manfaat penelitian
1. Bagi Akademik
a. Memberikan sumbangan ilmiah bagi mahasiswa dan institusi pendidikan dalam Program Diploma III Keperawatan.
b. Sebagai bahan masukan untuk penelitian selanjutnya



2. Bagi Penulis
a. Untuk mengembangkan kemampuan dalam menerapkan pengetahuan tentang proses penelitian.
b. Untuk menambah wawasan peneliti dalam mempersiapkan, mengumpulkan, menganalisa dan menginformasi data serta meningkatkan pengetahuan dalam penelitian.
c. Merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Diploma III pada Akademi Keperawatan Bina Insani Sakti Kabupaten Kerinci.
3. Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan informasi bahwa sarana air minum dan jamban keluarga merupakan wahana yang perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal kesehatan dan merupakan sanitasi lingkungan yang sangat rentan terhadap timbulnya berbagai penyakit lain. Dari penelitian ini juga diharapkan keluarga (terutama di pedesaan) lebih mengetahui sanitasi lingkungan yang baik yang merupakan lahan pokok dalam kehidupan sehari-hari.

 
Read More..